Header Ads

test

Redakan Stres Di Momen Liburan

Liburan akhir tahun beriringan sejak tanggal merah 25 Desember yang menunjukkan Hari Raya Natal umat Kristiani berlanjut dengan libur tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru. Makin banyak pula orang libur di momen ini karena bertepatan pula dengan hari-hari libur anak sekolah di Indonesia. Momen liburan ini, kerapkali menjadi waktu yang relatif penting bagi keluarga untuk berlibur ke suatu tempat. Benarkah liburan dapat meredakan stres?


Stres dapat diderita oleh siapa saja. Hal ini wajar. Tuntutan tugas harian sebagai salah satu penyebab orang stres. Terkadang libur sehari di tiap akhir pekan juga belum cukup membantu seseorang meredakan stresnya karena saking besarnya tuntutan kerja atau tugas yang dihadapi. Begitu pula bagi anak-anak yang jarang berjumpa dengan orang tua mereka. Stres mungkin juga mereka alami terkait kebutuhan kebersamaan bersama orang tuanya yang jarang mereka peroleh. Oleh karena itu, hadirnya momen liburan dapat membersamakan mereka kembali.

Liburan yang biasa kebanyakan orang memilih untuk pergi ke tempat wisata, menjadi suatu mekanisme coping stres tersendiri. Safarino (2006) menyatakan bahwa coping adalah proses di mana individu melakukan usaha untuk mengatur (management) situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan antara usaha (demands) dan kemampuan (resources) yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres. Setelah melakukan aktivitas berlibur di momen liburan, seseorang dapat mengekspresikan kebahagian, kepuasan, ketenangan, dan emosi lainnya untuk meredakan ketegangan psikologis. 

Kembalinya seseorang dari berlibur tentu akan menghadirkan situasi psikologis yang lebih baik. Lain halnya bila berliburnya seseorang justru menemui kendala seperti kemacetan, kehabisan tiket, atau lebih parah lagi terjadinya peristiwa yang tidak diharapkan. Alih-alih berlibur, seseorang justru memperoleh stres baru. Untuk itu, bagi Anda yang akan berlibur, persiapkan langkah antisipasi, hati-hati di jalan jika Anda berkendara sendiri, dan yang tak kalah penting adalah dengan menyiapkan langkah alternatif seandainya timbul keadaan yang tidak diinginkan. Selain itu, mempersiapkan mental dan kesabaran menjadi modal penting untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga.



Referensi:
Sarafino, E. 2002. Health Psychology. England:John Willey and Sons



No comments