Header Ads

test

Idul Adha sebagai Terapi Subconcious Mind

Kita ketahui bersama bahwa beberapa waktu yang lalu seluruh manusia di muka bumi yang beragama Islam melaksanakan ibadah kurban di Hari Raya Idul Adha. Ada landasan historis sekaligus filosofis dan imany yang melatarbelakangi ibadah ini. Hal ini juga bertepatan dengan momen ibadah haji yang memiliki latar belakang yang juga terjadi pada tokoh histori tersebut, yaitu Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Dalam berkurban tersebut, Nabi Ibrahim AS mengalami ketakutan dan kecemasan seraya dituntut untuk menjalankan perintah kenabian. Bagaimana tidak, beliau dalam mimpinya (yang benar sebagai nabi) diperintah untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS. Sembelih yang dimaksud adalah makna sebenarnya, yaitu layaknya menyembelih binatang ternak. Dalam kegalauannya tersebut, Nabi Ibrahim yang memiliki ketaatan kepada Tuhan melakukan perenungan dan menyampaikan terus terang perihal mimpinya kepada istri bahkan anak yang akan disembelihnya.

Pada akhirnya, istri dan putranya tercinta mengikhlaskan perihal tugas dari Allah tersebut. Di situlah, Nabi Ibrahim AS mengalami puncak emosi dan ketakutan layaknya manusia biasa yang (bisa Anda bayangkan) akan membunuh darah dagingnya sendiri dengan cara disembelih. Namun, beliau mampu menenangkan diri (relaksasi dan mensugesti diri) bahwa tugas ini harus ditunaikan dan melepas segala keraguan dan ketakutan menuju balasan baik dari Tuhan.

Beberapa waktu sebelum putranya nyaris beliau sembelih yang telah diasah dengan sangat tajam, datanglah malaikat untuk mencegah. Nabi Ibrahim AS pun urung mengiriskan pisau tajam itu dan putranya selamat. Malaikan menyampaikan pesan Allah bahwa agar Nabi Ibrahim cukup menyembelih hewan ternak sebagai gantinya. Di momen inilah, Nabi Ibrahim AS mengalami puncak emosi positif, penuh rasa bahagia dan haru. Kemudian, dengan sendirinya pribadi beliau menjadi sangat bersyukur setelah apa yang menimpanya. Peristiwa ini pun diabadikan oleh umat Islam dan merupakan syariat Allah yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir umat Islam.
Dari momen yang mendunia tiap tahun ini, terus menerus dilakukan oleh umat Islam yang berkemampuan untuk menyisihkan harta "kesayangannya" untuk dikurbankan demi mendapat ridho Allah. Hal ini bermanfaat selain memperoleh balasan yang baik di sisi Tuhan, juga membantu diri para peserta kurban (baca: orang yang melakukan ibadah berkurban) untuk mengalami keikhlasan dan kelapangan jiwa sebagai bentuk terapi bagi alam bawah sadarnya (subconcious mind). Bagi Anda yang tidak beragama Islam, Anda pun berkesempatan melakukan terapi pribadi dengan cara yang serupa dengan menyumbangkan harta Anda (dalam bentuk apapun) untuk membantu orang lain untuk mencapai keikhlasan tanpa mengharap balasan duniawi. Namun demikian, hal tersebut tentu perlu Anda renungkan dengan hati nurani Anda sebelum Anda melakukannya. Selamat menggapai keikhlasan!



No comments

wa