Mengatasi Anak yang Tantrum

Kehidupan manusia bermula dari kelahirannya dari sosok bayi. Pada permulaan pertumbuhan dan perkembangannya manusia telah melakukan pencarian untuk memenuhi kebutuhannya, misal mencari ASI. Seiring dengan berjalannya waktu bayi belajar dari orang tua (pengasuh) dan lingkungannya dan sedikit demi sedikit ia banyak menginginkan sesuatu. Hingga pada suatu ketika bayi tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki rasa kecewa. Dari rasa kecewa atas keinginan yang tak terpenuhi itulah tantrum melanda dirinya.


Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ adalah gejala emosi yang muncul dalam bentuk perilaku agresif yang tak terkendali. Tantrum biasanya dialami oleh anak usia balita. Saat mengalami tantrum ini, anak akan memanifestasikan emosinya dengan cara mengomel, memukul, menendang, mengigit, berteriak bahkan menyakiti diri sendiri. Selain itu, tantrum anak juga dapat ditampilkan secara pasif dengan cara menarik diri dan ngambek.

Latar belakang luapan emosi
Usia 0-3 tahun merupakan masa anak untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang ia kehendaki tak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

Bagaimana mencegah tantrum?
Mengetahui bahwa emosi merupakan hal yg lumrah, kita sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

Mengatasi tantrum
Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yg membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan dan diharapkan tantrum ini sudah akan hilang sebelum anak berusia 3 tahun. Mengapa? Karena semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya.
Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:
  1. Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
  2. Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata-rata anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat-erat dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.
Belajar memilih
Pada masa transisi dari masa ‘batita’ menjadi masa kanak-kanan (usia 3-6 tahun), penting bagi seorang anak untuk belajar mandiri/otonom sesuai dengan kapasitasnya. Kurangnya kesanggupan untuk mengatasi kekecewaan akan membuat anak senantiasa berbenturan dengan orang lain karena ia akan memaknai orang lain sebagai penyebab kesulitan atau ketidaknyamanan yang ia hadapi. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak untuk berhubungan secara harmonis dengan orang lain karena akan senantiasa muncul tuntutan-tuntutan dari anak terhadap orang lain.

Hal ini dapat dihindarkan dengan cara mengajarkan anak sejak dini untuk memilih dan bernegosiasi. Tujuannya agar anak memahami bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dan bahwa pilihannyalah yang menentukan apa yang dapat ia peroleh dan apa yang tak dapat dia peroleh. Dengan demikian ia akan siap saat berhadapan dengan rasa kecewa saat salah satu keinginannya tak terpenuhi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri.
Contoh negosiasi:
Saat si A meminta mainan di toko, ajukan pilihan: beli mainan atau pergi ke minimarket?
Saat si A meminta menonton televisi, berikan syarat agar ia terlebih dahulu melakukan A, B, atau C kemudian dia akan diijinkan menonton televisi.
Tahapan mempelajari pilihan ini dimulai dari pilihan yang enak vs enak, enak vs tidak enak, hingga tidak enak vs tidak enak.


Referensi:
http://mommiesdaily.com





_________________

Sultan Budi Lenggono, Pusat belajar hipnotis di Solo dan Klinik Hipnoterapi di Solo
Pelatihan hipnotis murah berkualitas dan Hypnoparenting
Klinik hipnoterapi modern dan profesional


Diberdayakan oleh Blogger.