Menjadi Orang Tua Yang Sabar

Oleh: Fajriati Maesyaroh, Psi.


Dear Para Bunda, Ummi, Ibu, Mama yang dicintai Allah ....

Mengatur emosi, untuk kemudian mengekspresikannya dengan cara yang tepat adalah hal yang kita “pelajari” pada awal-awal tahun kehidupan dan tentunya saat ini hal tersebut sudah terinternalisasi sebagai bagian dari karakter dan kepribadian kita. Karena itu, ketika kita menjumpai bahwa ternyata kita belum dapat mengatur dan mengekspresikan emosi kita dengan tepat, maka diperlukan motivasi yang sangat kuat dalam diri kita untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih matang secara emosi.

 
Subhanallah! Anak yang kita miliki pada hakikatnya adalah amanah yang Allah berikan. Amanah tersebut tentunya harus kita jaga sebaik mungkin sehingga dia bisa berkembang dengan optimal dalam segala aspek, termasuk di dalamnya aspek emosi. Salah satu hal yang bisa menjadi motivator terbesar bagi seorangtua untuk bisa berubah menjadi lebih baik adalah anak. Kita sebagai orangtua tentunya menginginkan agar anak-anak kita bisa menjadi individu yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani bertanya, memiliki toleransi terhadap stress yang tinggi, memahami kekuatan dan kelamahan dirinya, memiliki rasa empati yang tinggi, penuh rasa syukur terhadap Sang Pencipta, mampu mengatur dan mengekspresikan emosinya dengan tepat, dan seluruh karakter positif lainnya. Dan sebagai “sekolah” pertama bagi anak, maka mereka pastinya akan mengadaptasi dan mengimitasi seluruh karakter orangtua di rumah.

Berdasarkan penelitian di bidang Neurologi, ternyata anak-anak yang seringkali mendapatkan label/ucapan yang negatif, teriakan-teriakan atau bentakan-bentakan dari lingkungannya, maka batang otak si anak akan mengalami pembengkakan yang akan menekan sistem limbik yang sangat berperan dalam mengendalikan emosi. Karena itu, tak heran bila anak yang kerap kali mendapatkan label-label negatif, bentakan dan teriakan apalagi dengan hukuman fisik, maka kelak ia akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi serta dalam membentuk konsep diri yang positif. Hal ini lah yang sebaiknya perlu disadari oleh kita para orangtua untuk mau berubah dan belajar untuk mengatur dan mengendalikan emosi dengan lebih baik lagi.

Karakter anak-anak usia 3 -5 tahun memang masih cenderung egosentris. Biasanya anak-anak pada usia ini dirasakan banyak orangtua menampilkan perilaku yang “menyebalkan”. Mereka biasanya tidak mau turut perintah orangtua, tidak mau mengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan malah mengerjakan hal-hal yang tidak disukai orangtua. Namun karena hal-hal tersebut memang sangat wajar pada anak-anak usia tersebut, maka sebaiknya kita sebagai orangtua harus bisa lebih bijak dan cerdas dalam memandang masalah tersebut. Anak memang tetap harus diberitahu dan diajarkan tentang norma dan aturan yang berlaku dalam lingkungan dan keluarga. Namun, caranya tetap harus disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Selain itu, hal lain yang perlu diketahui oleh orangtua adalah semua perilaku anak, pada dasarnya adalah bertujuan untuk memancing perhatian dari kita orangtuanya. Karena itu, berikan perhatian yang besar saat anak menunjukkan perilaku yang kita harapkan, dan cukup kita abaikan saja perilaku anak yang negatif.

Ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan sehubungan dengan melatih diri kita sebagai orangtua dalam upaya meningkatkan kemampuan pengendalian emosi, antara lain :

1. Bila kita tidak ‘siap’ menghadapi anak yang saat itu sedang marah, menangis, teriak-teriak, atau menunjukkan perilaku tantrum lainnya, maka sebaiknya kita ‘menyingkir’ terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Segera pindah dari hadapan anak, dan lakukan aktivitas yang dapat membuat kita lebih siap menghadapi anak dengan segala perilakunya. Ibu atau Ayah bisa mengambil air wudhu, atau mandi, atau sholat sunnah 2 rakaat, atau masuk ke dalam kamar tidur untuk berbaring sebentar, atau melakukan aktivitas lain yang bisa membuat kita lebih tenang. Setelah kita merasa lebih siap, barulah kita masuk ke ‘arena’ anak tanpa mudah terpancing dengan perilaku tantrum anak.

2. Ketika anak sedang tantrum atau marah, kita tidak perlu menasihati panjang lebar. Cukup dengan memasang wajah afek datar dan abaikan segala perilaku tantrum tersebut. Nanti, ketika anak sudah tenang, barulah kita peluk, cium sambil kita katakan bahwa betapa kita sangat mencintainya. Sampaikan pada anak mengenai perasaan Ibu atau Ayah bila sang anak marah2, teriak2, melawan, pukul, banting barang, dan lain-lain, dan tidak perlu nasihat yang panjang dan lebar. Jangan lupa, ketika anak menunjukkan perilaku yang positif, berilah apresiasi pada anak. Bisa dengan pujian yang disertai dengan senyum termanis dr Ibu dan Ayah, pelukan, ciuman, dan lain-lain. Story telling atau mendongeng atau bercerita pada anak, juga merupakan terapi yang sangat efektif dalam membentuk karakter positif pada balita kita. Ayah dan Ibu bisa membeli buku atau cukup “mengarang” cerita dengan konteks yang sesuai dengan masalah anak.

3. Orangtua, Ayah dan Ibu juga harus memiliki waktu untuk diri sendiri. Pada waktu ini, Ayah dan Ibu bisa melakukan aktivitas yang sifatnya relaksasi atau dengan mengerjakan hobby yang bisa mengobati rasa jenuh. Tidak perlu waktu berjam-jam lamanya, mendengarkan musik, membaca buku, berendam di bath tub dengan air yang hangat, olahraga, menelpon teman lama, merangkai bunga, berkebun, makan malam di luar bersama teman, adalah contoh aktivitas yang bisa dilakukan ayah dan ibu yang bisa membuat otak dan hati menjadi lebih fresh. Dengan demikian diharapkan kita bisa jauh lebih siap dalam menghadapi segala perilaku anak.

4. Hal yang tak kalah penting adalah dengan banyak berdo’a dan selalu memohon kepada Allah Swt agar kita senantiasa diberikan kesabaran dalam mendidik anak-anak kita.



_________________

Sultan Budi Lenggono, Pusat belajar hipnotis di Solo dan Klinik Hipnoterapi di Solo
Pelatihan hipnotis Solo murah berkualitas dan Hypnoparenting
Klinik hipnoterapi modern dan profesional

Diberdayakan oleh Blogger.